Gempa & Kotak Misteri

Oleh. : Ariful Amin

Beberapa waktu terakir negara Indonesia dikejutkan beberapa kejadian. Kejadian yang paling menyita perhatian adalah gempa yang melanda Lombok dengan kekuatan 7 skala Richter yang diikuti oleh gempa gempa susulan dengan intensitas lebih rendah. Tentu kejadian ini perlu mendapat perhatian dan keprihatinan dari segala pihak.

Kejadian serupa tapi tak sama terjadi pula di dunia politik. Setidaknya ada beberapa kesamaan antara gempa di Lombok dan kejadian politik di tanah air. Pengakuan Mahfud MD dalam acara ILC jelas membuat guncangan terhadap politik di Indonesia.

Guncangan ini setidaknya mengguncang kepercayaan publik, dan meluluh lantakanya. Publik banyak yang merespon negatif terhadap proses penetapan wapres pasangan Jokowi. Walau tekan menekan dalam proses bargaining antar partai politik sering terjadi, namun intrik politik sampai seorang Presiden kehilangan independensi dalam menentukan wakilnya belum sepenuhnya dapat diterima publik. Sebagai pasangan layaknya dibangun atas kerelaan tanpa paksaan.

Pasangan yang dipaksakan seperti kisah Siti Nurbaya, sudah lama ditinggalkan. Sering kali pasangan hasil tekanan melahirkan ketidak harmonisan perjalanan selanjutnya. Dalam hal penentuan wapres, tekanan dalam menentukan pasangan menunjukan, pencarian figur hanya atas kesamaan faktor kelompok. Faktor kebutuhan dalam upaya memperbaiki bangsa menjadi faktor yang dinomor duakan. Itulah sebabnya memporak porandakan kepercayaan publik.

Gempa Lombok memakan korban, baik korban luka maupun kerusakan tempat tinggal. Gempa yang terjadi di politik juga demikian. Korban sakit hati dan rusaknya nama baik Nahdatul Ulama, tentu tidak dapat dihindarkan. Upaya tekanan yang membawa nama NU dengan membuat persepsi dihadapan Jokowi bahwa Mahfud MD bukan kader NU, menyeret organisasi ini rusak nama baiknya, walau hal tersebut dilakukan bukan atas pernyataan resmi tertulis, namun pernyataan dikeluarkan oleh pengurus inti organisasi.

Persamaan berikutnya adalah dengan jatuhnya korban maka perlu rehabilitasi dan penanganan pemulihan yang tidak mudah. Gempa politik tentu juga demikian. Pemulihan baik terhadap korban maupun terhadap kepercayaan publik tidaklah mudah. Perlu penanganan dan meyakinkan bahwa gempa sudah berlalu dan saat ini sudah aman. Tentu menanamkan keyakinan tersebut perlu waktu, oleh karenanya wajar dilatih 100 juru bicara baru, untuk menanggulangi gempa politik.

Gempa juga meninggalkan banyak info misteri, dalam gempa politik juga ada misteri yang luput dibahas. Misteri tersebut adalah kemana kekuatan Partai Politik yang selama ini mendukung Jokowi saat terjadi penekanan terhadap presiden. Utamanya adalah PDIP, GOLKAR, NASDEM, dan HANURA. Saat PKB dan PPP menekan Jokowi dengan membawa nama NU, Partai Politik pendukung seperti kehilangan nyali untuk mempertahankan pilihan sang Presiden. Selain meninggalkan misteri juga menunjukan dukungan tanpa syarat terhadap Jokowi ternyata kalah dengan dukungan bersyarat yang dilakukan PKB dan PPP. (**)

**)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi databicara.com

Share this:

Related posts

Leave a Comment