Kekalahan Strategi Penghadang Kegiatan #2019Gantipresiden

Oleh. : Ariful Amin

Tidak dapat dipungkiri semakin dekat PILPRES semakin naik tensi politik di Indonesia. Berbagai strategi politik dari masing-masing team pemenangan tak pelak ikut andil menaikan tensi tersebut. Acapkali juga adu argumen saling mengomentari program lawan bak saling berjawab pantun.

Dari semua kegenitan politik ada satu yang paling menyita perhatian. #2019Gantipresiden menjadi trending topik menjadi medsos. Berbulan-bulan menjadi viral dan paling banyak dibicarakan. Dari lawan politik tentu hal ini menjadi perhatian kusus pula, berbagai hal diupayakan untuk membendung, sampai dengan upaya mengarahkan #2019Gantipresiden sesuatu hal kriminal, yang pendukung taggar tersebut dapat dipidana. Upaya tersebut sangat jelas dengan apa yang disampaikan melalui juru bicara istana yakni Ali Muchtar Ngabalin.

Argumen yang dibangun adalah adanya upaya Makar. Pernyataan tersebut menjadi polemik, dan memancing para pakar Tatanegara ikut berkomentar, salah satunya Prof Mahfud MD. Dengan sangat jelas Ahli tatanegara tersebut menyampaikan #2019Gantipresiden bukan makar walau pihak istana yang menyampaikan tetap salah.

Pernyataan dari istana berefek pula ke berbagai daerah, dengan adanya persekusi dan penghadangan atau upaya penggalan deklarasi #2019Gantipresiden. Disinilah letak kekalahan kelompok yang berupaya menggagalkan deklarasi. Upaya upaya yang dilakukan justru membuat besar dan semakin disukai tagar tersebut. Kelompok yang berupaya menggagalkan tidak berkaca pada kejadian-kejadian sebelumnya, upaya “tidak fair” justru direspon negatif oleh masyarakat, dan justru menguntungkan pengusung tagar tersebut.

Ini dapat dilihat dengan upaya prabowo mengusung tagar baru #2019Prabowosandi dengan alasan menghindari resistensi. Namun tetap #2019Gantipresiden yang menjadi viral dan bertahan sampai sat ini. Kubu prabowo lebih pintar mengelola isyu politik dan memviralkan upaya penggagalan deklarasi. Upaya upaya tersebut menjadi bagian strategi yang terus akan dilakukan oleh pengusung Prabowo Sandi. Saat ini tidak menjadi penting lagi kesuksesan deklarasi. Yang terpenting memancing kubu pro Jokowi dan bermain di medsos yang lebih efektif terbukti perang dimedsos di zaman milenial punya pengaruh yang signifikan.

Hal ini ditempuh karena pro Prabowo tidak mempunyai media massa baik elektronik maupun berbentuk koran. Seperti pernyataan sang calon sendiri bahwa Prabowo merasa kalah uang dan kalah media massa. Strategi pro Prabowo tidak dibaca oleh pro Jokowi dengan cerdik. Apapun pemasungan yang dijalankan oleh pro Jokowi justru membuat merosot elaktabilitas Jokowi. Ditambah juga dengan pernyataan team Jokowi melalui jubirnya Farhat Abas ” yang tidak memilih jokowi masuk neraka”. Hal itu menambah respon negatif terhadap team pengusung Jokowi.

Strategi-strategi dibulan kedepan semakin diperlukan baik dalam upaya mengcounter pihak lawan ataupun menciptakan strategi baru. Mengcounter lawan harus lebih cermat karena tidak hanya bertahan tapi menyiapkan bidak lanjutan. Salah dalam mengantisipasi justru menguntungkan pihak lawan. Upaya penghadangan deklarasi hendaknya disudahi, berganti dengan persiapan mencari alasan yang kuat mengapa janji-janji Jokowi tidak terpenuhi. Mencari argumen yang masuk akal jauhkan argumen seperti program NAWACITA di desain untuk 10 Tahun. (**)

**)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi databicara.com

 

Share this:

Related posts

Leave a Comment