Lagi, Wali Kelas SMKN 1 Bontang Terkesan Lakukan Pembodohan Terhadap Dunia Pendidikan

DATABICARA.COM, Bontang Kalimantan Timur – Berkisar pukul 19.00 Wita, seusai  acara buka bersama Rabu 15 Mei 2019 kami melalukan investigasi kepada Anugrah selaku korban pembodohan di dunia pendidikan tingkat SMK di Bontang. (16/05).

Diduga sebagai pelaku pembodohan sesama profesi guru adalah Wali Kelas Dra. Hasmirah seorang guru BKBP juga, Dalam wawancara dipaparkan bahwa nilai pada semester 5 kelas XII TKR tahun ajaran 2018-2019 diduga nilai siswa disulap ada 3 anak yakni 1. Joko Setiawan NIS 160401017 nilai pengetahuan 68 (C) dan Keterampilan 69 (C), 2. Maulana Adi Prayoga NIS 160401019 nilai pengetahuan 68 (C) dan praktek 69 (C), 3. Renaldo Sulle NIS 160401024 nilai pengetahuan 68 (C) dan keterampilan 69 (C).

Nilai C berarti tidak tuntas alias tidak lulus karena nilai KKM adalah 70 untuk jurusan produktif TKR, Kejadian di kelas XII Jurusan Teknik Kerdaraan Ringan (TKR) SMKN 1 Bontang, nilai revisi yang di laporkan Anugrah sebagai guru pengampu mata pelajaran PKKR kepada Wali Kelas sebelum penerimaan raport  itu.

ternyata Wali Kelas menulis dan merubah nilai menjadi lulus dengan meng-up nilai anak walinya menjadi 70 (nilai lulus), padahal sudah diwanti-wanti via telpon dan WA oleh guru pengampu. Pakai nilai revisi tersebut dengan dasar alasan ke tiga anak tersebut tidak mengumpulkan kewajibannya sampai batas waktu ditentukan. terangnya.

Guru pengampu mengetahui dan curiga saat sempat men-chat  Wali Kelas mempertanyakan nilai revisi yang sudah diberikan. Malah chat di jawab iya. Namun kenyataan di raport ke tiga anak tersebut  nilainya berbeda dengan nilai pengangan guru pengampu. Ini namanya pembodohan dunia pendidikan. Dan penzholiman sesama profesi guru bahasa lainnya… Wali Kelas tidak amanah menipu guru pengampu. Tambahnya pula. Nilai itu yang tahu kemapuan anak guru, bukan Wali Kelas. Apalagi ketiga anak ini dari segi kehadiran juga kurang sering tidak masuk sekolah.

Guru mata pelajaran juga sempat bertemu dengan Waka Kurikulum Sultan. Dan Membenarkan nilai semester 5 anak Kelas XII lulus semua. Dan sudah masuk di dapodik sambil ketawa-ketawa. Padahal Waka Kurikulum juga saat itu sempat di WA nilai reveisi sama guru pengampu, jadi ada dugaan kerjasama alias kongkalikong. Yang jelas saya sebagai guru pengampu tidak menerima hal ini dan akan berencana melanjutkan laporan ke managemen setelah melakukan penelusuran sendiri dengan bukti real raport 3 anak tertulis lulus.

Ketiga anak ini saat itu pengumpulan tugas akhir tidak muncul alias tidak menyetorkan tugasnya yang mana tugas akhir ini nilainya tinggi. Baik nilai teori maupun olahan nilai praktek. Sehingga dinyatakan tidak lulus oleh gurunya. Dan parahnya lagi. salah satu ortu siswa dari Maulana AP men-chat guru meminta pada malam terakhir pengumpulan nilai agar tugas/nilainya bisa di tukar dengan apa. Sangat tidak beretika orang tua yang meminta proses nilai dengan cara meminta menukar sesuatu, Dan diduga oleh guru mata pengampu, bisa jadi di ajari sama wali kelasnya. Seperti dugaan kejadian beberapa tahun dengan modus mirip sama.

Anak di suruh menghadap guru bukannya diarahkan kerjakan tugasnya malah disuruh pakai jalan pintas agar gurunya di ajak minta sesuatu. Lalu setelahnya siswa di tanya lagi Kamu disuruh apa oleh gurumu, Lalu guru tersebut menyebarluaskan hal itu kepada sesama guru. Artinya guru ini tidak sepantasnya memberi jalan demikian kepada siswa atau orang tua siswa. Pembodohan masyarakat sudah ini namanya, ucap guru pengampu. Dan tidak terelakkan karena orang tua sendiri bercerita balik, jelas guru pengampu.

Ditambahkan lagi, guru pengampu menduga antara Wali Kelas dan orang tua karena tidak berhasil memberikan sesuatu kepada guru pengampu karena ditolak hal seperti itu. Bisa jadi penawaran orang tua malah ke Wali Kelas. Jika hal ini terjadi, maka masyarakat perlu di edukasi akan hal seperti ini adalah pembodohan pendidikan yang parah. Menyuap guru agar anaknya dapat nilai. Sama halnya mengajari guru untuk Korupsi.

Sampai saat ini informasi yang diterima data bicara akan dilanjutkan melakukan investigasi dan penelusuran lebih lanjut dengan pihak wali kelas dan orang tua siswa serta pihak managemen sekolah kebenarannya. (Agus Wahyu).

Share this:

Related posts

Leave a Comment