Tumbilatohe, Adat Asli Warga Gorontalo

Boalemo, Gorontalo.DATABICARA.COM- Malam pasang lampu atau tumbilatohe merupakan adat orang Gorontalo untuk memperingati malam Lailatul Qodar, malam pasang lampu atau tumbilatohe ini pula, dilakukan pada setiap malam ke 27 bulan ramadhan.

Namun, sangat disayangkan di pusat kota Kabupaten Boalemo yang merupakan ibukota dari Tilamuta yang biasanya dirayakan malam pasang lampu di lapangan alun-alun Tilamuta sekarang tidak ada satupun lampu botol menghiasi lapangan itu.

Setelah dikonfirmasi melalui seluler Kabag Humas, Ulki Kiu menjelaskan, tradisi malam pasang lampu berlangsung setiap tahun yang menjadi rutinitas dan malam pasang lampu kali ini dilaksanakan di dulupi.

“Kenapa tidak dilaksanakan di lapangan alun-alun, karena ada beberapa pertimbangan, yakni Kecamatan Dulupi, khususnya kota raja mendapatkan juara dua tingkat provinsi yang menjadi pendamping dari Desa Ayuhulalo yang menjadi juara pertama dan Ayuhulalo sudah dan itu di tahun lalu,” jelasnya.

Ditambah, salah satu pertimbangan penilaian tumbilatohe itu, harus ada destinasi wisata dan di dulupi memiliki pantai Langala yang akan diorbitkan menjadi salah satu destinasi wisata laut.

“Sehingga pemerintah daerah mengambil langkah dari dua pertimbangan ini, sehingga malam pasang lampu atau tumbilatohe di pusatkan di kota raja atau di kecamatan dulupi,” jelasnya.

Ulkia Kiu juga mengharapkan, ada penilaian terbaik dari provinsi, karena dalan kegiatan tumbilatohe atau malam pasang lampu yang dipusatkan di Kecamatan Dulupi, khususnya di Desa Kota Raja mengangkat kearifan lokal yang berhubungan langsung dengan tumbilatohe atau cara dengan tradisional.

Ulkia pula menambahkan, Bupati telah menyampaikan kegiatan yang berlangsung setiap tahun ini akan di pusatkan di setiap kecamatan, terkait kenapa tidak ada hiasan lampu botol di lapangan alun-alun Ulki menuturkan akan menginformasikan kembali yang pasti tidak ada pengabaian.

“Pemerintah berusaha untuk memaksimalkan, jadi kosentrasi semua terpusat pada kegiatan tumbilatohe yang di selenggarakan di desa kota raja bagamana ikhtiar mendapatkan juara satu, sehingga kedepannya pariwisata akan mendapatkan nilai jual yang lebih tinggi terutama berhubungan dengan destinasi wisata,” kata dia.

Melihat hal yang janggal pada malam pasang lampu yang berada di kecamatan tilamuta, khususnya di lapangan alun-alun yang biasanya di hiasi dengan ribuan lampu botol.

Tokoh Masyarakat, Rahman Pakaya angkat bicara, sebab pada saat kepemimpinan Alm.Iwan Bokings, festival tumbilotohe dibungkus dalam ajang lomba antar desa, masing-masing desa saling berlomba satu sama lain tanpa harus memfokuskan pada satu tempat tertentu.

Kemudian di jaman Rum Pagau, Boalemo kembali menggelar hal yang serupa, 5 tahun kepemimpinan Rum festival tumbilotohe pun tidak terfokus pada satu tempat.

“Kenapa alun-alun jadi patokan untuk ribuan lampu botol tersebut, karena sudah jelas alun-alun adalah tempat/taman ibu kota Boalemo. Namun, jika saat ini difokuskan pada satu tempat, saya khawatir bahwa pemerintahan Darwis coba menimbulkan hal yang mengakibatkan pada kecemburuan sosial masyarakat itu sendiri. Apa salahnya jika semua desa berpartisipasi meramaikan festival di kampung sendiri. Untuk itu, pemda jangan sampai menciptakan isu primordial dalam lingkungan masyarakat kita. Tubilotohe bukan milik Kota raja, bukan milik Tilamuta. Tapi, milik kita semua masyarakat Boalemo,” tegasnya. (Risno Buntina)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Related posts

Leave a Comment