Warisan

Oleh. : Ariful Amin

Mengapa soekarno, Gusdur, dan banyak lagi ilmuan dikenang walau telah meninggal puluhan tahun? Sebab mereka meninggalkan warisan bukan hanya bagi anak-anaknya tapi bagi umat manusia yang lain. Warisan pemikiran, ide, ilmu pengetahuan yang ditinggalkan merupakan warisan dari segi resiko sangat kecil dibanding warisan berupa harta.

Warisan berupa harta benda bernilai resiko sangat besar, oleh karenanya warisan berupa harta perlu diatur secara kusus. Pengaturan tersebut didalam umat muslim diyakini Allah SWT sendiri yang menetapkan. Penetapan itu menunjukan bahwa resiko apabila tidak diatur langsung oleh Allah SWT sangat memungkinkan menimbulkan kerusakan. Pengaturan mengenai warisan ada dalam QS An Nisa.

Warisan berupa harta memungkin berkurang bahkan habis, apabila ahli waris tidak dapat mengelolanya. Sangat berbeda apabila mewariskan ilmu pengetahuan, ide, pemikiran. Warisan tersebut tidak akan berkurang walau dibagi keseluruh umat manusia. Warisan justru tidak hilang dan bahkan makin berkembang. Warisan ilmu pengetahuan makin digali makin bertambah.

Kehabatan warisan ilmu pengetahuan juga tidak mengenal ahli waris terdekat. Berbeda dengan warisan harta dihitung berdasarkan yang terdekat sebagai prioritas dan pembagian lebih besar. Walau mempunyai kedekatan dengan ahli waris, namun tidak serta merta mendapatkan pembagian warisan ilmu lebih besar dibanding dengan yang tidak ada hubungan nasab sekalipun dengan yang meninggal.

Warisan walau ada kemiripan kata dengan arisan tapi sangat jauh berbeda. Mendapatkanya bukan hasil goncangan, ada yang mendapatkan secara tanpa perjuangan yakni warisan harta, ada yang harus bersusah payah belajar yakni warisan ilmu. Pemimpin mempunyai potensi lebih besar mewariskan ide, ilmu pengetahuan bagi perkembangan peradapan. Oleh karenanya sangat merugi apabila hanya mengejar jabatan, tapi justru mewariskan kerusakan bagi umat manusia.

Pemimpin disegala level dengan potensi yang ditimbulkan akibat kepemimpinanya, menjadi berlipat ganda efeknya ke bawah. Warisan kebaikan akan berlipat ganda, begitupun warisan kerusakan. Mengejar jabatan dengan segala cara yang berakibat kerusakan, menunjukan keserakahan dan ketidak pahaman akan posisinya. Dan ketidak tahuan akan posisinya sejatinya telah menggugurkan predikat sebagai pemimpin. Gajah mati meninggalkan Gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan warisan. (**)

**)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi databicara.com

Share this:

Related posts

Leave a Comment